Minggu, 16 Oktober 2016

KELOMPOK MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR


TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

 

 

 

 

 


 

 

 

 

NAMA KELOMPOK ILMU BUDAYA DASAR:

 

-DESIRE VERONICA

-DIMAS AJIE PANGESTU

-FEBRI KURNIAWAN

-NURUL HIDAYAH

-RINI

 

 

 

 

 

PENGARUH LINGKUNGAN KELURAGA TERHADAP HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tentang “ Pengaruh lingkungan keluraga terhadap hubungan orang tua dan anak “ ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini, Kami tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama penyusunan makalah ini terutama untuk Dosen kami, selaku Pembimbing Mata Kuliah  perkembangan peserta didik, Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan serta teman-teman yang telah membantu.

Dengan penuh kesadaran bahwa tak ada gading yang tak retak, maka makalah ini pun tidak luput dari segala kekurangan. Segala kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya memperbaiki, menyempurnakan dan mengembangkan makalah ini sangat kami  harapkan.

Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita pada umumnya dan bagi kami khususnya.

 

 

 

 

 

Bekasi, 9 oktober 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR................................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

 

BAB I PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang................................................................................................................... 1

B.     Rumusan Masalah.............................................................................................................. 1

C.     Tujuan................................................................................................................................. 1

 

BAB II PEMBAHASAN

 

                  A. Pengertian keluarga................................................................................................................ 2

B.     Peranan dan fungsi keluarga.............................................................................................  2

C.     Fungsi keluarga.................................................................................................................... 3

D.     Tanggung Jawab keluarga.................................................................................................. 4

E.      Faktor-faktor keluarga yang mempengaruhi anak......................................................... 4

 

BAB III PENUTUPAN

A.     Kesimpulan........................................................................................................................... 5

B.     Saran...................................................................................................................................... 5

 

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Sejak lahir, bahkan sejak masih didalam kandungan manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah perubahan yang berkenaan dengan aspek-aspek jasmaniah atau fisik, menunjukan perubahan atau penambahan secara kuantitas, yaitu penambahan dalam ukuran besar atautinggi, Sedangkan perkembangan yaitu perubahan yang menyangkut aspek- aspek psikis atau rohaniah, berkenaan dengan peningkatan kualitas, yaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi.

Pertumbuhan dan perkembangan memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak adalah keluarga. Secara genetik, anak telah memiliki sifat-sifat bawaan tertentu sebagai potensi dasar untuk berkembang. Pengaruh-pengaruh interaktif bawaan lingkungan inilah yang akan menentukan proses perkembangan anak.Urie Bronfrenbrenner & Ann Crouter (sigelman & Shaffer, 1995:86) mengemukakan bahwa “...lingkungan perkembangan merupakan berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu

Maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan perkembangan siswa adalah keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan siswa

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang sangat utama bagi perkembangan anak, sebab keluarga lingkungan pertama yang dikenal anak sejak ia lahir. Untuk itu penyusun tertarik mengkaji mengenai lingkungan keluarga sebagai pengaruh perkembangan anak.

B.     Rumusan Masalah

dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yakni sebagai berikut :

1.      Apa yang dimaksud dengan keluarga?

2.       Apa peran dan fungsi keluarga?

3.       Apa faktor-faktor keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak?

4.      Apa implikasi faktor lingkungan keluarga terhadap pendidikan anak di SD?

C.     Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka dapat disimpulkan beberapa tujuan yang ingin dicapai yakni sebagai berikut :

1.      Mengetahui pengertian keluarga.

2.      Mengetahui peranan dan fingsi keluarga.

3.       Mengetahui faktor-faktor keluargayang mempengaruhi perkembangan anak.

4.      Mengetahui implikasi faktor lingkungan keluarga terhadap pendidikan anak di SD.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Keluarga

 

M. I. Soelaeman ( 1978 : 4-5 ) mengemukakan pendapat para ahli mengenai pengertian keluarga, yaitu :

1.      F. J. Brown berpendapat bahwa

ditinjau dari sudut pandang sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu  Dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga. Dan Dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak.

 

2.      Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Ada beberapa jenis keluarga, yakni: keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak, keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, di mana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Selain itu terdapat juga keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan

 

B.     Peranan dan Fungsi Keluarga

 

1.      Peran Lingkungan Keluarga dalam Konteks Perkembangan Anak

 

Keluarga sudah dikenal sebagai lingkungan perndidikan yang pertama dan utama. Predikat ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Pandangan ini sangat logis dan mudah dipahami karena beberapa alaan sebagai berikut:

 

Pertama, keluarga lazimnya merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Begitu anak lahir, lazimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan memberikan layanan interaktif kepada anak. Apa yang dilakukan dan diberikan oleh pihak keluarga menjadi sumber

perlakuan pertama yang akan mempengaruhi pembentukan karakteristik pribadi dan perilaku anak. Menurut banyak ahli pengalaman hidup pada masa awal akan menjadi fondasi bagi proses perkembangan dan pembelajran anak selanjutnya.

 

Kedua, sebagian besar waktu anak lazimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. Kalau di sekolah anak menghabiskan waktu sekitar 5-6 jam, maka di rumah anak bisa menghabikan

waktu sekitar dua kali lipat atau lebih dari itu. Besarnya peluang dan interaksi akan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan anak.

 

Ketiga, karakteristik hubungan orangtua- anak berbeda dari hubungan anak dengan

pihak-pihak lainnya (guru, teman, dsb). Kepada orangtua disamping anak memiliki ketergantungan secara materi, ia juga memiliki ikatan psikologi tertentu yang sejak dalam kandungan sudah dibangun melalui jalinan kasih saying dan pengaruh- pengaruh normatif tertentu.Keempat, interaksi kehidupan orangtua- anak di rumah bersifat “asli”, seadanya

dan tidak dibuat-buat.Dalam praktiknya, bagaimanapun pengaruh keluarga itu akan bervariasi.

 

C.     Adapun fungsi keluarga adalah sebagai berikut :

 

a.        Fungsi Biologis

Keluarga dipandang sebagai pranata

Kebutuhan itu meliputi:

1)    Sandang, pangan dan papan,

2)    Hubungan seksual suami istri, dan

3) Reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun

melalui pernikahan merupakan tempat “penyemaian” (bibit-bibit insani yang fitrah).

 

b.      Fungsi Ekonomis

Keluarga (dalam) hal ini ayah mempunyai kewajiban untuk menafkahi (istri dan anak). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberi nafkah, melainkan menurut kadar kesanggupan).

 

c.        Fungsi Pendidikan (edukatif)

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Keluarga berfungsi sebagai “transmiter budaya atau mediator”. Fungsi keluarga dalam pendidikan adalah menyangkut penanaman, pembimbingan atau

pembiasaan nila-nilai agama, budaya dan ketrampilan-ketrampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.

 

d.      Fungsi Sosialisasi        

Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan faktor penentu (determinant factor) yang sangat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran- peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya

e.       Fungsi Rekreatif

Untuk melaksanakan fungsi ini, keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dengan penuh semangat bagi anggotanya. Maka keluarga harus ditata sedemikian rupa, seperti menyangkut aspek dekorasi interior rumah, hubungan komunikasi yang tidak kaku (kesempatan berdialog bersama sambil santai), makan bersama, bercengkrama dengan penuh suasana humor dan sebagainya

 

f.        Fungsi Agama (Religius)

Keluarga berfungsi sebagai penanam nilai- nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Dalam Al-Quran, surat Al Tahrim: 6, difirmankan: ”Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Ayat ini memberikan isyarat kepada para orang tua bahwa mereka diwajibkan memelihara diri dan keluarganya dari murka tuhan. Keluarga berkewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotannya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

 

g.  Fungsi Cinta Kasih

Untuk medorong keluarga sebagai wahana pembinaan cinta kasih sayang serta jiwa kesetiakawanan antara anggota keluarga dan antara keluarga dengan masyarakat.

 

D.     Tanggung Jawab Keluarga

    

Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh keluarga khususnya orang tua terhadap anak antara lain:

1.      Memelihara dan membesarkannya, tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan karena anak memerlukan makan, minum, dan perawatan agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.

2.      Melindungi dan menjamin kesehatannya baik rohani maupun jasmani

3.      Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga bila ia telah dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain.

4.      Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E.      Faktor-Faktor Keluarga

 

Mempengaruhi Perkembangan Anak Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak

 

 

1.       Keberfungsian Keluarga

Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal (kondisi fisik, psikis dan moralitas anggota keluarga) dan faktor eksternal (perubahan sosial budaya, maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang kokoh dalam menerapkan fungsinya (fungsinonal- normal) tapi ada juga keluarga yang mengalami keretakan atau ketidakharmonisan (disfungsional atau tidak normal). Keluarga yang fungsional (normal) yaitu kelurga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagai mana yang sudah dijelaskan. Disamping itu, keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik :

a)      Saling memperjatikan dan mencintai,

b)      Bersikap terbuka dan jujur,

c)      Orang tua mau mendengarkan anak,menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya,

d)      Ada “sharing” masalah atau pendapat diantara anggota keluarga.

 

2.      Pola hubungan orang tua-anak sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak

Radin (Seifert & Hoffnung, 1991) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut.

        Pemodelan perilaku (modeling of behaviors)

Baik disengaja atau tidak orangtua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Cara dan orang tua berperilaku akan menjadi sumber objek imitasi bagi anak. Tidak hanya yang baik- baik saja yang diterima oleh anak tapi sifat-sifat yang jeleknya pun akan dilihat pula.

        Memberikan hukuman dan ganjaran (giving rewards and punishments)

Orang tua mempengaruhi anknya denganmemberi ganjaran terhadap perilaku tertentu yang dilakukan oleh anaknya dan memberi hukuman terhadap beberapa perilaku lainnya.

        Perintah langsung (direct instruction)

         Menyatakan peraturan-peraturan

(stating rules) Secara berulang-ulang orang tua sering menyatakan peraturan-peraturan umum yang berlaku di rumah, meskipun hal ini sering dinyatakan secara tidak tertulis.Dengan cara ini anak didorong untuk melihat perilakunya apakah sudah benar atau belum melalui perbandingan dengan peraturan-peraturan tersebut.

        Nalar (reasoning)

Pada saat menjengkelkan, orangtua bisa mepertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orangtua untuk mempengaruhi anaknya.

 

 

        Menyediakan fasilitas atau bahan- bahan dan adegan suasana (providing

materials and settings) Orangtua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.     KESIMPULAN

Lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan kepribadian anak, khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Peran lingkungan dalam mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan pra kelahiran maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri khususnya lingkungan keluarga.

 

Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Adapun sumbangan lingkungan keluarga yang berimpilkasi terhadap pembelajaran anak di sekolah.

 

B.     SARAN

Sebaiknya sebagai orang tua hendaknya selalu memperhatikan dan memberikan

 

pengawasan serta bimbingan kepada anak-anaknya. Hal ini sangat diperlukan karena anak rentan terhadap pengaruh lingkungan. Orang tua harus memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya karena orang tua sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Daim, dkk. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI Press

 

Hasbullah. (1996). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta:PT Rajagrafindo Persada Pipung. (2011). Peran Keluarga dalam Mensukseskan Pendidikan.

 

Aninom, Tersedia:http://blog.um.ac.id/ pipuxz/2011/12/20/peran-keluarga- dalam mensukseskan-pendidikan/

 

POTENSI DIRI


Potensi diri

Potensi diri saya yang positif

-         Saya bisa memasak

-         Saya suka berenang untuk membuat tubuh saya semakin tinggi dan juga untuk melatih pernafasan

-         Saya suka menolong teman dan sesame jika memutuhkan bantuan dan saya bisa mengerjakannya
 

Kekurangan diri saya :

-          Saya malas membaca tulisan-tulisan panjang

-          Saya terkadang menjadi orang pelupa

-          Saya salah satu orang yang boros dan susah untuk menabung

 

 

CONTOH KASUS MANUSIA DAN CINTA KASIH

CONTOH KASUS MANUSIA DAN CINTA KASIH
Ø  Ibu Bunuh Anak Kandungnya Sendiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Eci Amanda (25) ditangkap polisi karena membekap hingga tewas anak pertamanya, Putri Amanda, yang baru berusia dua tahun sembilan bulan.
Eci, istri dari Syafrizal (28), ditangkap di rumah kontrakan mereka di Jalan Kartini 13 Nomor 4 RT 13 RW 02 Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Kartini, Jakarta Pusat,
Jumat (15/1/2010) malam. Kawasan tersebut merupakan daerah perkampungan padat yang banyak dihuni warga kelas menengah-bawah, termasuk para pekerja malam.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat Komisaris Suwondo Nainggolan yang dihubungi, Sabtu, mengatakan, Eci Amanda diduga sering menyiksa putrinya.
”Berdasar otopsi terhadap jenazah Putri Amanda, didapati lebam pada paru. Bayi tersebut mati lemas,” kata Nainggolan.
Putri Amanda diketahui mati lemas pada Jumat malam sekitar pukul 21.00. Sekitar satu jam sebelumnya, Putri masih disuapi makan oleh Eci.
Syafrizal kepada polisi mengaku, Eci kerap menyiksa putrinya jika ada permintaannya yang tidak dituruti Syafrizal. Syafrizal bekerja sebagai pedagang makanan yang
hidup sederhana. Suwondo mengatakan, belum tahu apakah soal ekonomi ikut jadi faktor pemicu kekerasan Eca Amanda kepada putrinya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jakarta Pusat Inspektur Satu Sentike Bosayor mengatakan, Eci mengaku membekap anaknya hingga tewas karena kesal
Putri menangis tanpa henti. Putri Amanda dibekap sekitar 30 menit hingga mati lemas di tangan ibunya.
”Dia sudah kami periksa kemarin. Pemeriksaan kami hentikan karena dia sakit pendarahan pada gusi. Hari ini (Minggu), dia akan diperiksa kondisi kejiwaannya di RSCM,”
Minggu, 17 Januari 2010 | 07:20 WIB KOMPAS.com

OPINI
sungguh miris sekali dengan contoh kasus kriminal diatas dengan teori kasih yang telah dipaparkan. Memang tidak dapat dipungkiri kenyataan akan kasus seperti ini sering dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari.
Cinta Kasih Eci terhadap Putri Amanda seolah lenyap sirna sekejap berubah menjadi beban oleh karena ketidak tulusan Eci dalam mengasuh menyayangi Putri.
Unsur kasih seperti yang dipaparkan dalam teori pemaparan sebelumnya yakni berupa Pemeliharaan (Pengasuhan), Tanggung Jawab, dan perhatian yang pada intinya bersumber dari Kasih.
tidak terbentuk dikarenakan bentuk perasaan memberikan perhatian, membantu, patuh, pengorbanan diri, Ketulusan, terhadapa sang buah hati pun sudah tidak ada.
umumnya setelah kasus seperi ini barulah Orangtua yang menyadari dan meratapi akan kesalahannya dengan alasan "hilaf" apabila sejak awal sudah ditanamkan cinta kasih mendalam terhadap
sang buah hati Putri Amanda maka tentuya Eci mengasihi putrinya tersebut bukan sebagai suatu beban melainkan suatu bentu rasa sayang perasaan yang penuh tulus kasih sehingga
kejadian seperti ini tdak terjadi. Menurut saya dengan begini membuktikan bahwa Cinta Kasih bisa menjadi suatu Preventif akan Kriminalisasi. yang dpelajari dalam IBD sebagai usaha manusia
untuk menjadi kaum humanis yang berperikemanusiaan .

 

MANUSIA DAN CINTA KASIH


MAKALAH MANUSIA DAN CINTA KASIH

BAB I PENDAHULUAN
 1. Latar Belakang

            Cinta merupakan karunia tuhan yang kita dapatkan untuk mengagumi seseorang lebih dalam. Sangat disesali, orang pada umumnya masih bingung akan apakah cinta itu sesungguhnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfileman memperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu dititik beratkan pada perasaan dan cerita romantika.

Dari jaman dulu sampai sekarang hakikat cinta kasih masih menjadi perbincangan yang tidak dibatasi secara jelas dengan makna yang luas pula. Walaupun, sulit juga untuk diungkapkan dan diingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang cukup fundamental. Begitu fundamentalnya sampai-sampai membawa Khalil Gibran, seorang punjagga terkenal, berpendapat bahwa “Cinta hanyalah sebuah kemisterian”. Cinta sangat erat dalam kehidupan dan tidak bias di pisahkan dalam kehidupan. Tidak pernah selintas pun orang berpikir bahwa cinta itu tidak penting. Mereka haus akan cinta, mereka butuh akan cinta.

Kendati pun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu,  cinta bisa diibaratkan sebagai suatu seni yang sebagaimana bentuk seni lainnya sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk bisa menggapainya.

Begitupun dengan kasih sering sekali kita terkecoh bahkan sulit untuk membedakan cinta dan kasih itu sendiri. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik mengambil judul makalah Manusia dan Cinta Kasih, agar dapat membantu kita semua untuk lepas dari ketidak jelasan Cinta Kasih yang selalu menjadi bahan perenungan, diskusi, cerita yang tidak pernah ada akhirnya.

2.   Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka berikut penulis akan merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah pengertian cinta kasih tersebut?
  2. Apa sajakah macam-macam cinta ?
  3. Apakah pengertian kasih sayang?
  4. Bagaimana cara mewujudkan cinta kasih ?

3.       Maksud dan Tujuan

      Adapun maksud dan tujuan pembahasan makalah ini, yaitu berdasarkan rumusan masalah diatas .

  1. Untuk memahami makna cinta kasih
  2. Untuk mengetahui macam-macam cinta menurut ajaran agama
  3. Untuk memahami makna kasih sayang
  4. Untuk cara mewujudkan rasa cinta kasih dan sayang agar hidup tentram dan damai tercapai

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1  Pengertian  Cinta Kasih

Cinta adalah perasaan yang lahir dari hati seseorang , timbul dengan sendirinya, tidak melihat waktu dan usia, suatu asa untuk ingin menyayangi dan memiliki, seperti perasaan cinta ibu kepada anak nya, perasaan cinta tuhan kepada umat nya yang bertaqwa. cinta yang tulus akan menimbulkan nilai2 kejiwaan yang selalu tulus dan berserah.

Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan. Belas kasihan dan pengabdian.

Cinta kasih yang disertai dengan tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan. Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kebahagia

 

2.2 Macam-macam cinta

Pada takaran yang lebih spesifik Erich Fromm membedakan cinta dalam beberapa macam bentuk, yakni:

Ø  Cinta antara orangtua dan anak

Seorang bayi menyadari keterpisahannya dengan sang ibu setelah ia dilahirkan, kesadarannya itu menimbulkan rasa takut atas kenyataan, oleh karena itu pada tahun-tahun pertama, bayi tidak akan mampu bertahan tanpa hadirnya sang ibu atau yang diibukan. Kebutuhan bayi pada ibunya adalah tahapan pertama dalam cinta. Ini adalah bentuk cinta kekanak-kanakan, cinta yang pasif, yang hanya ingin mencintai jika ia dicintai. Si bayi tidak melakukan apapun untuk mendapatkan cinta dari ibunya, ia tidak perlu bertindak ini-itu, cukup menjadi dirinya sendiri, ia sudah mendapatkan cinta dari sang ibu. Sedangkan cinta sang ibu kepada anaknya adalah bentuk cinta yang aktif, ia yang memberikan cinta, mencintai tanpa harus dicintai. Cinta ibu adalah cinta yang tidak membutuhkan syarat. Sang ibu sadar akan keberadaan anaknya yang juga merupakan bagian dari keberadaannya. Berbeda dengan cinta sang ibu, cinta bapak adalah cinta yang memiliki syarat. Ketika sang anak telah beranjak masa remaja, ia telah terbiasa dengan keterpisahaannya dengan sang ibu, lantas ia mencari cinta baru, cinta yang hanya akan ia dapatkan dari san ayah. Ayah adalah seseorang yang mengajarkan anak, yang menunjukkan kepadanya jalan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, cinta ayah adalah cinta bersyarat, cinta yang memiliki otoritas atas yang dicintainya. Prinsipnya adalah “ Aku mencintai kamu karena kamu memenuhi harapanku, karena kamu melakukan tugasmu, karena kamu melakukan tugasmu”. Ayah memberikan cinta kepada anaknya dengan cara menggurui, memandu sang anak untuk melihat dunia melalui sudut pandangnya. Cinta inilah yang membuat kebanyakan Ayah menginginkan sang anak menjadi seperti dirinya.

Ø  Objek cinta

Jika seorang pribadi mencintai hanya satu orang dan acuh tak acuh dengan sesamanya yang lain, cintanya bukanlah cinta, melainkan kelekatan timbal balik, atau egotisme yang meluas. Jika benar-benar mencintai seseorang, saya harus mencintai semua orang, mencintai seluruh dunia, mencintai kehidupan. Jika bisa mengatakan kepada orang lain, “Saya mencintai kamu”, maka saya harus mampu mengatakan, “Saya mencintai semua orang, saya mencintai seluruh dunia, saya mencintai kamu dan juga diriku”. Namun, mengatakan bahwa cinta adalah sebuah orientasi yang mengacu pada semua dan tidak hanya pada satu, tidak berarti bahwa tidak ada perbedaan diantara berbagai macam cinta yang tergantung pada macam objek yang dicintai.

Ø  Cinta sesama

Cinta paling fundamental yang mendasari semua jenis cinta adalah cinta sesama. Yang Erich Fromm maksud adalah rasa tanggung jawab, kepedulian, respek, pemahaman tentang manusia lain, kehendak untuk melestarikan kehidupan. Cinta sesama adalah cinta kesetaraan.

Ø  Cinta erotis

Cinta ini adalah cinta yang mendambakan peleburan total, penyatuan dengan pribadi lain. Cinta erotis sesungguhnya bersifat eksklusif dan tidak universal; mungkin inilah bentuk cinta yang paling samar. Cinta erotis sepenuhnya merupakan ketertarikan individual, unik diantara dua pribadi yang spesifik. Pacaran dan pernikahan adalah wujud dari hubungan yang dihasilkan oleh cinta erotis. Cinta ini teramat rumit, selain membutuhkan rasa yang sama, kerap kali juga membutuhkan pemikiran yang sama.

Ø  Cinta-Diri

Mencintai diri sendiri berbeda dengan mementingkan diri sendiri. Mencintai diri sendiri artinya mencintai orang lain juga, anda tidak bisa mencintai orang lain tanpa terlebih dahulu mencintai diri sendiri dan anda juga tidak akan bisa mencintai diri sendiri tanpa mencintai orang lain. Cinta kepada diri sendiri adalah wujud kecintaan kepada umat manusia, karena diri kita sendiri juga merupakan bagian dari umat manusia. Sebenarnya saya masih bingung dengan gagasan Erich Fromm yang satu ini.

Ø  Cinta Kepada Allah

Mencintai Allah nyaris sama dengan mencintai ibu. Cinta Allah masih bisa diperdebatkan terus-menerus. Menurut Erich Fromm, Cinta kepada Allah adalah cinta kepada ciptaannya, cinta yang tidak hanya dalam pikiran namun lebih pada tindakan. Jika anda mencintai Allah, itu artinya anda juga mencintai segala sesuatu yang berasal dari Allah. Mencintai segala sesuatu dengan tindakan yang benar dan baik, tanpa merugikan dan bertindak buruk terhadap alam, sesama, dan makhluk-makhluk lainnya. Dengan adanya sikap menjaga binatang, melestarikan alam dan tetumbuhan, juga menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia adalah sama dengan mencintai Allah.

 

2.3 Pengertian kasih sayang

Pada dasarnya kasih sayang adalah fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada mahluknya, misalnya hewan, kita perhasikan begitu kasihnya kepada anaknya, sehingga rela berkorban jika anaknya diganggu. Naluri inipun ada pada manusia, dimulai dari kasih sayang orang tua kepada anaknya, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi naluri kasih sayang ini dapat tertutup jika terdapat hambatan – hambatan misalnya pertengkaran, permusuhan, kerasukan, kedengkian dan lain – lain.Sayang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia di artikan kasihan.Oleh karena itu,kasih sayang diartikan sebagai cinta,kasih atau amat suka.Dengan demikian,maka sayang memperkuat rasa kasih seseorang yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata,dan semua nya bersumber dari rasa cinta.        

 

2.4 Cara mewujudkan cinta kasih    

Ada beberapa contoh cinta kasih, yaitu sebagai berikut:

a)Cinta kasih antara orang tua dengan anaknya. Orang tua yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, berarti mempunyai cinta kasih terhadap anak, mereka selalu mengharapkan agar anaknya menjadi orang baik dan berguna dikemudian hari.

 

b)Cinta kasih antara pria dan wanita. Seorang pria menaruh perhatian terhadap seorang gadis dengan prilaku baik, lemah lembut, sopan, apalagi memberikan sekuntum mawar merah, berarti ia menaruh cinta kasih terhadap gadis itu.

c)Cinta kasih antara sesama manusia. Apabila seorang sahabat berkunjung kerumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat kepadanya, menghiburnya serta medoakannya berarti sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sakit itu.

d)Cinta kasih antara manusia dan Tuhan. Apabila seorang taat beribadah, menuruti perintahnya dan menjauhi segala larangan Tuhan, orang itu mempunyai cinta kasih kepada Tuhan pencipta-Nya

e)Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya. Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara tanaman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena bisa dikatakan orang tersebut menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.

Ungkapan Cinta Kasih

Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak, atau media lainnya.

Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya ungkapan.Aku cinta padamu. Ungkapan dengan tulisan, misalnya surat cinta, surat Ibu kepada putrinya. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman, pelukan, dan rangkulan.Ungkapan dengan media, misalnya setangkai bunga, benda suvernir dan benda kado.Ungkapan-ungkapan ini selain dalam bentuk nyata, juga dalam bentuk karya budaya, misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis.

Orang yang mempunyai pesona cinta kasih, hidupnya penuh gairah, semangat, banyak inisiatif, dan penuh kreatif, bagi seniman perilaku cinta kasih dituangkan dalam bentuk karya budaya sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat/khalayak.Dengan demikian, masyarakat dapat memetik nilai-nilai kemanusia yang terungkap melalui karya budaya itu.

Cara Mewujudkan Cinta Kasih

Cinta kepada sesama adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu: 

1. Pengenalan 

2. Tanggung jawab 

3. Perhatian 

4. Saling menghormati

 
DAFTAR PUSTAKA

From Erich. 1983. Seni Mencintai. Jakarta. Sinar Harapan