Jumat, 11 November 2016

Manusia dan Penderitaan


 

 

 

 

 

 

ILMU BUDAYA DASAR

 

Manusia dan Penderitaan




 

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIej5_naFKHl3I8iZVEi5dJ8KqZiutr6xp7hqxGhyTRQNggShv5rGmOCYTaYE3WF9Fojw9oeztyBrsScCUcD5o_0FK7QxgQkqdZz7UyoxnF7E5xR2CBXRqGA3NNYBu-rFekSR2y4G6XXM/s1600/hvbhv.jpg

 

 

NURUL HIDAYAH

1EA30

15216620

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

  Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah merasakan penderitaan. Baik itu ringan atau berat. Hidup tidaklah selalu bahagia tuhan memiliki caranya sendiri untuk mengukursebarapa kuat iman kepadanya. Hidup di duniapun tidak selalu menderita, sedih, ataupun susah.

  Terkadang saat manusia terlalu terbuai dengan kesenangan duniawi manusia akan melupakan batasan-batasan yang ada sehingga tuhan akan memberikan cobaan untuknya yang membuatnya menderita.

  Penderitaan selalu datang tak terduga, manusia takkan pernah tau kapan , jam berapa,  menit keberapa, dan detik keberapa penderitaan akan datang menghampiri hidupnya. Manusia hanya perlu menjalani hidupnya dengan sebaik baiknya dengan aturan yang berlaku dan sesuai kepercayaan yang ia anut.

1.2.   Rumusan Masalah

Adapun masalah-masalah yang akan dibahas sebagai berikut :

1.    Pengertian Penderitaan.

2.    Contoh-contoh penderitaan dan penyebabnya

3.    Siksaan.

4.    Kekalutan Mental Dalam Kehidupan Sehari-hari

5.    Pengaruh penderitaan terhadap manusia dan kelangsungan hidupnya.

1.3.   Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.    Untuk mengetahui dan memahami tentang hubungan manusia dengan penderitaan.

2.    Untuk memahami berbagai macam penyebab manusia mengalami penderitaan.

 

 

BAB II

 PEMBAHASAN

A.           Pengertian Penderitaan

   Penderitaan berasal  dari kata derita.Kata derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. penderitaan bisa bersifat lahir dan bersifat batin. Setiap manusia memiliki penderitaan yang berbeda –beda. Manusia dikatakan menderita apa bila dia memiliki masalah, depresi karena tekanan hidup, dan lain lain.

   Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat.  Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.

     Menurut agama penderitaan itu adalah teguran dari tuhan. Penderitaan ada yang ringan dan berat contoh penderitaan yang ringan adalah ketika seseorang mengalami kegagalan dalam menggapai keinginannya. Sedangkan contoh dari penderitaan berat adalah ketika seorang manusia mengalami kejadian pahit dalam hidupnya hingga ia merasa tertekan jiwanya sampai terkadang Ingin mengakhiri hidupnya.

    Penderitaan adalah termasuk realitas manusia di dunia. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan.Suatupristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan.

B.    Siksaan

   Penderitaan biasanya di sebabkan oleh siksaan. Baik fisik ataupun jiwanya.Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatupemerintah.Arti siksaan, siksaan berupa jasmani dan rohani bersifat psikis, kebimbangan, kesepian, ketakutan.

Siksaan Yang Sifatnya Psikis :

Kebimbangan.

memiliki arti tidak dapat menetukan pilihan mana yang akan dipilih.

Kesepian.

merupakan rasa sepi yang dia alami pada dirinya sendiri / jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai.

Ketakutan.

adalah sebuah sesuatu yang tidak dinginkan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar – besarkan tidak pada tempatnya, maka disebut sebagai phobia.

 

penyebab seseorang merasakan ketakutan, antara lain:

1.    Claustrophobia dan agrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup.

2.    Gamang adalah rasa takut akan tempat yang tinggi.

3.    Kegelapan adalah rasa takut bila seseorang berada di tempat gelap.

4.    Kesakitan merupakan ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang akan dialami.

5.    Kegagalan ketakutan dari seseotang disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan dijalankan mengalami kegagalan.

 

C.         Penderitaan dan Perjuangan

   Setiap manusia pasti mengalami penderitaan, baik secara berat ataupun ringan. Penderitaan adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama sekali. Manusia adalah makhluk berbudaya, dengan budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan yang mengancam atau dialaminya. Hal ini membuat manusia itu kreatif, baik bagi penderita sendiri maupun bagi orang lain yang melihat atau mengamati penderitaan.

   Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekwensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidupnya. Allah berfirman dalam surat Arra’du ayat 11, bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha merubahnya.

  Pembebasan dari penderitaaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan namun yang Tuhanlah yang yang menentukan hasilnya.

D.        Pengaruh Penderitaan Terhadap Kelangsungan Hidup Manusia

   Penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan.

   Orang yang merasa dirinya menderita akan mendapat tekanan dari dalam jiwanya dan rasa malu. Tak jarang banyak manusia yang ingin mengakhir hidupnya karena tidak kuat menopang siksaan dalam hidupnya. Ini terjadi di karenakan  kekalutan mental. Kekalutan mental merupakan  suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kekacuan dan kebingungan dalam dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya.

Gejala- gejala permulaan pada orang yang mengalami kekalutan mental sebagai berikut :

a) Fisiknya sering merasa pusing, sesak napas, demam dan nyeri pada lambung.

b) Jiwanya sering menunjukkan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis (kurangnya emosi, motivasi, atau antusiasme).

Terkadang kekalutan  mental bisa berujung pada gangguan jiwa  dikarenakan kepribadiaan yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna sehingga orang tersebut merasa rendah diri.

E. Kekalutan Mental Dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Frustasi

Description: f46a8abe64f341d186e59f95b7633a515fdc6af4

Frustasi merupakan suatu keadaan ketegangan yang tak menyenangkan, dipenuhi perasaan dan aktivitas simpatetis yang semakin meninggi yang disebabkan oleh rintangan dan hambatan. Frustrasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya. Sumber yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian tujuan.

2. Patah hati


Patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskansakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai, melalui kematian, perceraian, putus hubungan, terpisah secara fisik atau penolakan cinta.

Patah hati biasanya dikaitkan dengan kehilangan seorang anggota keluarga atau pasangan hidup, meski kehilangan orang tua, anak, hewan peliharaan, orang yang dicintai atau teman dekat bisa “mematahkan hati seseorang”, dan sering dialami ketika sedih dan merasa kehilangan. Frasa ini mengarah pada sakit fisik yang dirasakan seseorang di dada sebagai dampak kehilangan tersebut, tetapi ada pula perpanjangannya yang meliputi trauma emosional ketika perasaan tersebut tidak dialami sebagai wujud sakit somatik. Meskipun “patah hati” biasanya tidak memberi kerusakan fisik apapun pada jantung, ada sebuah kondisi bernama “sindrom patah hati” atau kardiomiopati Takotsubo, yaitu ketika sebuah insiden traumatik mendorong otak untuk menyalurkan zat-zat kimia ke jaringan jantung yang melemah.

3. Trauma



Setiap orang pasti pernah punya pengalaman traumatis, seperti ditinggal oleh orang yang dicintai, menderita penyakit serius, perceraian, kecelakaan, pelecehan, dipermalukan, melihat kejadian mengerikan dan sebagainya.

Pada saat itu, kita mungkin akan merasa sangat gelisah atau mengalami “guncangan perasaan” yang membuat kita tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari. Tetapi biasanya guncangan perasaan itu akan berlalu, dan kehidupan menjadi lebih normal kembali.

Contoh kasus trauma yang hilang dengan sendirinya, misalnya Anda mengalami kecelakaan mobil. Mungkin Anda menjadi takut menyetir atau sangat berhati-hati saat menyetir. Namun setelah beberapa minggu berlalu, Anda sudah kebut-kebutan di jalan lagi. Inilah trauma sementara yang sering kita alami.

Namun bagi beberapa orang, “guncangan mental” itu tidak pernah berlalu. Selalu dihantui oleh perasaan mencekam dan hidup tidak pernah tenang, seolah kejadian traumatis terus menerus terjadi. Seseorang yang merasa seperti ini mungkin menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau disebut oleh orang awam sebagai “trauma”, sebuah gangguan psikologis yang menyebabkan penderitanya tidak bisa merasakan kedamaian.

Pada hakekatnya semu rasa penderitaan, siksaan, kekalutan mental dengan manusia itu berdampingan bahkan penderitaan itu selalu ada pada setiap manusia karena penderitaan merupakain rangkaian dari kehidupan. Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan, siksaan, ataupun kekalutan mental.

Semua hal itu dapat teratasi tergantung bagaiamana seseorang menyikapi hal tersebut. Banyak hikmah dan pelajaran yangdapat diambil dari penderitaan, siksaan, dan kekalutan mental. Tidak semua yang dialami oleh seseorang membawa pengaruh buruk bagi orang yang mengalaminya. Melainkan dengan penderitaan kita dapat mengetahui kesalahan apa yang telah kita perbuat atau sebagai media untukmenginstropeksi diri. Karena penderitaan, siksaan, dan kekalutan mental tidak akan muncul jika tidak ada penyebabnya.

Agar manusia tidak mengalami penderitaan, siksaan, dan kekalutan mental yang berat. untuk itu manusia harus bisa menjagasikap dan perilaku baik kepada sesama manusia, alam sekitar, maupun kepada Tuhan YangMaha Esa. Karena dengan kita menjaga sikap dan perilaku antar sesama manusia, alamsekitar, dan Tuhan Yang Maha Esa, kita akan hidup dengan nyaman dan tentram tidak ada gangguan dari siapapun. Selain itu kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya.

 

F.        Contoh–contoh Penderitaan dan Penyebabnya

Berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat dibagi  menjadi 2 bagian sebagai berikut :

Ø  Nasip buruk penderitaan ini karenakan perbuatan buruk manusia yang dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan alam sekitarnya. Perbedaan nasip buruk dan takdir adalah jika takdir di tentukan oleh tuhan sedangkan nasib buruk penyebabnya Karena ulah manusia itu sendiri. Contohnya : penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab tuhan. Namun dengan kesabaran dan tawakal dan optimise  merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut.

Ø  Kehilangan orang tua, setiap manusia pasti mencintai orang tuanya dan memiliki hubungan yang erat dengan keluarganya. Penderitaan ini adalah yang paling sering kita jumpa dan sangat sedih tentunya .tapi kesedihan Karena penderitaan diharapkan tidak berlarut larut karena semua manusia yang hidup pasti akan kembali kepada tuhannya.

Ø  Kemiskinan , banyak orang yang mederita karena kemiskinan , merasa tidak pernah cukup dengan apa yang telah ia punya sehingga mengakibatkan seseorang merasa menderita karena tidak bisa memiliki sesuatu yang ia inginkan. Ini di karena kan kurangnya rasa syukur manusia atas apa yang telah di berikan oleh tuhan.

Ø  Bencana, tidak ada seorang pun yang dapat menghindari bencana yang tuhan berikan. Bencana bisa kapan saja dating dan menimpa siapa saja bahkan seringkali mengakibatkan kehilangan anggota keluarga. Trauma batin yang diakibatkan karena bencana juga sulit di sembuhkan.

 

Contoh Kasus

 

   Contoh nyata dalam lingkungan saya ketika seseorang mengalami siksaan dalam penderitaan seperti banyaknya kasus bunuh diri. Salah satunya adalah tetangga saya sendiri ia seorang pemuda memutuskan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, menurut cerita dari teman dan tetangga ia bukan hanya sekali mencoba bunuh diri yang pertama kali ia  bunuh diri dengan menyileti nadinya dengan tangan namun tak berhasil, yg kedua dengan gantung diri ini dia berhasil, penyebabnya adalah pergaulan lingkungan bermain dia yang keras, seperti memakai narkoba,ganja bermabuk2an dan lainlain, jika tidak ada barang konsumsiannya itu dia merasa depresi dan resah sperti orang kehilangan kesadaran, dan memukul-mukul dirinya sendiri, itu yang mneyebabkan berkali-kali ia mencoba bunuh diri.

  Ini adalah salah contoh dari penderitaan dan  siksaan secara fisik maupun batin yang menyebabkan korban menjadi depresi berat dan lemahnya mental sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri.

 

Minggu, 16 Oktober 2016

KELOMPOK MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR


TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

 

 

 

 

 


 

 

 

 

NAMA KELOMPOK ILMU BUDAYA DASAR:

 

-DESIRE VERONICA

-DIMAS AJIE PANGESTU

-FEBRI KURNIAWAN

-NURUL HIDAYAH

-RINI

 

 

 

 

 

PENGARUH LINGKUNGAN KELURAGA TERHADAP HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tentang “ Pengaruh lingkungan keluraga terhadap hubungan orang tua dan anak “ ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini, Kami tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama penyusunan makalah ini terutama untuk Dosen kami, selaku Pembimbing Mata Kuliah  perkembangan peserta didik, Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan serta teman-teman yang telah membantu.

Dengan penuh kesadaran bahwa tak ada gading yang tak retak, maka makalah ini pun tidak luput dari segala kekurangan. Segala kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya memperbaiki, menyempurnakan dan mengembangkan makalah ini sangat kami  harapkan.

Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita pada umumnya dan bagi kami khususnya.

 

 

 

 

 

Bekasi, 9 oktober 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR................................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

 

BAB I PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang................................................................................................................... 1

B.     Rumusan Masalah.............................................................................................................. 1

C.     Tujuan................................................................................................................................. 1

 

BAB II PEMBAHASAN

 

                  A. Pengertian keluarga................................................................................................................ 2

B.     Peranan dan fungsi keluarga.............................................................................................  2

C.     Fungsi keluarga.................................................................................................................... 3

D.     Tanggung Jawab keluarga.................................................................................................. 4

E.      Faktor-faktor keluarga yang mempengaruhi anak......................................................... 4

 

BAB III PENUTUPAN

A.     Kesimpulan........................................................................................................................... 5

B.     Saran...................................................................................................................................... 5

 

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Sejak lahir, bahkan sejak masih didalam kandungan manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah perubahan yang berkenaan dengan aspek-aspek jasmaniah atau fisik, menunjukan perubahan atau penambahan secara kuantitas, yaitu penambahan dalam ukuran besar atautinggi, Sedangkan perkembangan yaitu perubahan yang menyangkut aspek- aspek psikis atau rohaniah, berkenaan dengan peningkatan kualitas, yaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi.

Pertumbuhan dan perkembangan memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak adalah keluarga. Secara genetik, anak telah memiliki sifat-sifat bawaan tertentu sebagai potensi dasar untuk berkembang. Pengaruh-pengaruh interaktif bawaan lingkungan inilah yang akan menentukan proses perkembangan anak.Urie Bronfrenbrenner & Ann Crouter (sigelman & Shaffer, 1995:86) mengemukakan bahwa “...lingkungan perkembangan merupakan berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu

Maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan perkembangan siswa adalah keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan siswa

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang sangat utama bagi perkembangan anak, sebab keluarga lingkungan pertama yang dikenal anak sejak ia lahir. Untuk itu penyusun tertarik mengkaji mengenai lingkungan keluarga sebagai pengaruh perkembangan anak.

B.     Rumusan Masalah

dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yakni sebagai berikut :

1.      Apa yang dimaksud dengan keluarga?

2.       Apa peran dan fungsi keluarga?

3.       Apa faktor-faktor keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak?

4.      Apa implikasi faktor lingkungan keluarga terhadap pendidikan anak di SD?

C.     Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka dapat disimpulkan beberapa tujuan yang ingin dicapai yakni sebagai berikut :

1.      Mengetahui pengertian keluarga.

2.      Mengetahui peranan dan fingsi keluarga.

3.       Mengetahui faktor-faktor keluargayang mempengaruhi perkembangan anak.

4.      Mengetahui implikasi faktor lingkungan keluarga terhadap pendidikan anak di SD.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Keluarga

 

M. I. Soelaeman ( 1978 : 4-5 ) mengemukakan pendapat para ahli mengenai pengertian keluarga, yaitu :

1.      F. J. Brown berpendapat bahwa

ditinjau dari sudut pandang sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu  Dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga. Dan Dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak.

 

2.      Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Ada beberapa jenis keluarga, yakni: keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak, keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, di mana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Selain itu terdapat juga keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan

 

B.     Peranan dan Fungsi Keluarga

 

1.      Peran Lingkungan Keluarga dalam Konteks Perkembangan Anak

 

Keluarga sudah dikenal sebagai lingkungan perndidikan yang pertama dan utama. Predikat ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Pandangan ini sangat logis dan mudah dipahami karena beberapa alaan sebagai berikut:

 

Pertama, keluarga lazimnya merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Begitu anak lahir, lazimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan memberikan layanan interaktif kepada anak. Apa yang dilakukan dan diberikan oleh pihak keluarga menjadi sumber

perlakuan pertama yang akan mempengaruhi pembentukan karakteristik pribadi dan perilaku anak. Menurut banyak ahli pengalaman hidup pada masa awal akan menjadi fondasi bagi proses perkembangan dan pembelajran anak selanjutnya.

 

Kedua, sebagian besar waktu anak lazimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. Kalau di sekolah anak menghabiskan waktu sekitar 5-6 jam, maka di rumah anak bisa menghabikan

waktu sekitar dua kali lipat atau lebih dari itu. Besarnya peluang dan interaksi akan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan anak.

 

Ketiga, karakteristik hubungan orangtua- anak berbeda dari hubungan anak dengan

pihak-pihak lainnya (guru, teman, dsb). Kepada orangtua disamping anak memiliki ketergantungan secara materi, ia juga memiliki ikatan psikologi tertentu yang sejak dalam kandungan sudah dibangun melalui jalinan kasih saying dan pengaruh- pengaruh normatif tertentu.Keempat, interaksi kehidupan orangtua- anak di rumah bersifat “asli”, seadanya

dan tidak dibuat-buat.Dalam praktiknya, bagaimanapun pengaruh keluarga itu akan bervariasi.

 

C.     Adapun fungsi keluarga adalah sebagai berikut :

 

a.        Fungsi Biologis

Keluarga dipandang sebagai pranata

Kebutuhan itu meliputi:

1)    Sandang, pangan dan papan,

2)    Hubungan seksual suami istri, dan

3) Reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun

melalui pernikahan merupakan tempat “penyemaian” (bibit-bibit insani yang fitrah).

 

b.      Fungsi Ekonomis

Keluarga (dalam) hal ini ayah mempunyai kewajiban untuk menafkahi (istri dan anak). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberi nafkah, melainkan menurut kadar kesanggupan).

 

c.        Fungsi Pendidikan (edukatif)

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Keluarga berfungsi sebagai “transmiter budaya atau mediator”. Fungsi keluarga dalam pendidikan adalah menyangkut penanaman, pembimbingan atau

pembiasaan nila-nilai agama, budaya dan ketrampilan-ketrampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.

 

d.      Fungsi Sosialisasi        

Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan faktor penentu (determinant factor) yang sangat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran- peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya

e.       Fungsi Rekreatif

Untuk melaksanakan fungsi ini, keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dengan penuh semangat bagi anggotanya. Maka keluarga harus ditata sedemikian rupa, seperti menyangkut aspek dekorasi interior rumah, hubungan komunikasi yang tidak kaku (kesempatan berdialog bersama sambil santai), makan bersama, bercengkrama dengan penuh suasana humor dan sebagainya

 

f.        Fungsi Agama (Religius)

Keluarga berfungsi sebagai penanam nilai- nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Dalam Al-Quran, surat Al Tahrim: 6, difirmankan: ”Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Ayat ini memberikan isyarat kepada para orang tua bahwa mereka diwajibkan memelihara diri dan keluarganya dari murka tuhan. Keluarga berkewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotannya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

 

g.  Fungsi Cinta Kasih

Untuk medorong keluarga sebagai wahana pembinaan cinta kasih sayang serta jiwa kesetiakawanan antara anggota keluarga dan antara keluarga dengan masyarakat.

 

D.     Tanggung Jawab Keluarga

    

Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh keluarga khususnya orang tua terhadap anak antara lain:

1.      Memelihara dan membesarkannya, tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan karena anak memerlukan makan, minum, dan perawatan agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.

2.      Melindungi dan menjamin kesehatannya baik rohani maupun jasmani

3.      Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga bila ia telah dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain.

4.      Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E.      Faktor-Faktor Keluarga

 

Mempengaruhi Perkembangan Anak Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak

 

 

1.       Keberfungsian Keluarga

Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal (kondisi fisik, psikis dan moralitas anggota keluarga) dan faktor eksternal (perubahan sosial budaya, maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang kokoh dalam menerapkan fungsinya (fungsinonal- normal) tapi ada juga keluarga yang mengalami keretakan atau ketidakharmonisan (disfungsional atau tidak normal). Keluarga yang fungsional (normal) yaitu kelurga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagai mana yang sudah dijelaskan. Disamping itu, keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik :

a)      Saling memperjatikan dan mencintai,

b)      Bersikap terbuka dan jujur,

c)      Orang tua mau mendengarkan anak,menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya,

d)      Ada “sharing” masalah atau pendapat diantara anggota keluarga.

 

2.      Pola hubungan orang tua-anak sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak

Radin (Seifert & Hoffnung, 1991) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut.

        Pemodelan perilaku (modeling of behaviors)

Baik disengaja atau tidak orangtua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Cara dan orang tua berperilaku akan menjadi sumber objek imitasi bagi anak. Tidak hanya yang baik- baik saja yang diterima oleh anak tapi sifat-sifat yang jeleknya pun akan dilihat pula.

        Memberikan hukuman dan ganjaran (giving rewards and punishments)

Orang tua mempengaruhi anknya denganmemberi ganjaran terhadap perilaku tertentu yang dilakukan oleh anaknya dan memberi hukuman terhadap beberapa perilaku lainnya.

        Perintah langsung (direct instruction)

         Menyatakan peraturan-peraturan

(stating rules) Secara berulang-ulang orang tua sering menyatakan peraturan-peraturan umum yang berlaku di rumah, meskipun hal ini sering dinyatakan secara tidak tertulis.Dengan cara ini anak didorong untuk melihat perilakunya apakah sudah benar atau belum melalui perbandingan dengan peraturan-peraturan tersebut.

        Nalar (reasoning)

Pada saat menjengkelkan, orangtua bisa mepertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orangtua untuk mempengaruhi anaknya.

 

 

        Menyediakan fasilitas atau bahan- bahan dan adegan suasana (providing

materials and settings) Orangtua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.     KESIMPULAN

Lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan kepribadian anak, khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Peran lingkungan dalam mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan pra kelahiran maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri khususnya lingkungan keluarga.

 

Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Adapun sumbangan lingkungan keluarga yang berimpilkasi terhadap pembelajaran anak di sekolah.

 

B.     SARAN

Sebaiknya sebagai orang tua hendaknya selalu memperhatikan dan memberikan

 

pengawasan serta bimbingan kepada anak-anaknya. Hal ini sangat diperlukan karena anak rentan terhadap pengaruh lingkungan. Orang tua harus memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya karena orang tua sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Daim, dkk. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI Press

 

Hasbullah. (1996). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta:PT Rajagrafindo Persada Pipung. (2011). Peran Keluarga dalam Mensukseskan Pendidikan.

 

Aninom, Tersedia:http://blog.um.ac.id/ pipuxz/2011/12/20/peran-keluarga- dalam mensukseskan-pendidikan/